Sejarah Kodifikasi Hadis pada Masa Umar bin Abdul Aziz

Sejarah Kodifikasi Hadis pada Masa Umar bin Abdul Aziz. Hadis pada masa nabi diterima atau disampaikan melalui lisan atau dari mulut ke mulut, kemudian pada akhir masa abad pertama hijriah, tepatnya pada masa khalifah Umam bin Abdul Aziz penguasa dinasti umayyah mencoba mendokumentasikan, mengumpulkan hadis-hadis itu dalam bentuk kitab.

jigang.id

Gagasan-gagasan yang disampaikan oleh Umar bin Abdul iziz kemudian direspon oleh ulama-ulama pada waktu itu dengan antusias. 

Langkah-langkah yang ditempuh oleh Umar bin Abdul aziz adalah dengan menunjuk salah satu gubernur madinah yaitu Amr bin Hazm (wafat 735M) yang diberi mandat untuk mengumpulkan hadis-hadis dari madinah. 

Selain Amr bin Hazm, juga menunjuk salah seorang tokoh yang bernama Syihab Az-zuhri (wafat 795M) dan untuk membangun sebuah metodologi, menunjuk Malik bin Anas (wafat 741M) sebagai orang yang secara teknis mengumpulkan hadis-hadis tersebut.

Oleh karena itu, pada masa inilah yang disebut al ashr al fash al riwayat yaitu upaya-upaya untuk mengumpulkan hadis, mulai dari mengklasifisikan hadis sesuai dengan tingkat otentisitas dan juga tingkat orisinalitas sebuah hadis. 

Kodifikasi hadis atau pembukuan hadis memang dilakukan atas dasar banyaknya sahabat-sahabat yang mempunyai tulisan atau kumpulan-kumpulan hadis. 

Walaupun pada paktu itu nabi dasarnya melarang untuk menuliskan hadis, tapi ada beberapa sahabat yang tetap menuliskan sebuah hadis, salah satunya adalah sahifah yang dikumpulkan oleh Abdullah ibn Amr Alash, kemudian sahifah ash-sahihah milik Hamman bin Munnabih, kitab-kitab Abdullah bin abbas dan sohifah Jabir bin Abdillah al-anshari.

Mereka semua mempunyai catatan hadis meskipun tulisan tersebut pada masa nabi tidak resmi karena larangan nabi untuk menulis hadis. Dari dasar itulah maka agar tidak menjadi perbedaan, tidak terjadi penyalahgunaan riwayat, terkait dengan kepentingan-kepentingan politik khusunya pada hadis-hadis yang berkembang pada masa itu maka Umar bin Abdul Aziz dan beberapa ulama untuk melakukan pengkodifikasian hadis. 

Motif kodifikasi hadis juga didorong karena banyaknya para penghafal hadis yang meninggal dalam peperangan perluasan islam. Adanya konflik antar kelompok atas dasar ideologi yang semakin berkembang akibat pollitik, perebutan kekuasaan pasca peristiwa tahkim yaitu ketika pertikaian antara sayidina Ali dan Muawiyah yang kemudian melahirkan firqah-firqah dalam Islam. 

Salah satu dari banyak sebab adalah karena banyaknya hadis yang ditafsirkan, dipalsukan dalam rangka untuk mendukung para penguasa pada masa itu. 

Adanya kelompok-kelompok pendewan hadis yang tidak resmi diluar kehendak khalifah yang kemudian dipahami dan dipandang cukup membahayakan karena dikhawatirkan pendewan hadis hanya untuk kepenting-kepentingan kelompok tertentu. 

Berkembangnya budaya literasi pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, budaya literasi atau budaya tulis menulis sehingga sangat memungkinkan secara sumber daya manusia, kemampuan untuk mencoba melakukan pengkodifikasian hadis. 

Untuk menjaga ontentisitas sebuah hadis dan menjaga keaslian suatu hadis, maka upaya-upaya itu menjadi dasar yang kuat bagi Umar bin Abdul Aziz untuk melakukan pengkodifikasian hadis.

Penulis Faizal Abdul Aziz.

Post a Comment for "Sejarah Kodifikasi Hadis pada Masa Umar bin Abdul Aziz"