Pentingnya Khidmah Ndalem dan Pesantren Bagi Seorang Santri

Khidmah bukanlah sebuah kata yang asing di telinga seorang santri, bagi mereka khidmah adalah satu hal yang harus dimiliki dalam dirinya. Tanpa khidmah proses nyantri akan berasa kurang lengkap dan bermakna. Sebenarnya, apa sih khidmah itu? 

Khidmah berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti pengabdian kemudian diadopsi dalam bahasa Indonesia dan memiliki arti yang sama. Dalam KBBI, khidmah artinya kegiatan, pengabdian, dan melayani. 

khidmah santri
sumber gambar: sabak.or.id

Sedangkan, khidmah di pesantren berarti suatu proses atau kegiatan mengabdi pada pesantren dan pengasuh sebagai satu usaha membalas jasa para guru dan mencari berkah para ulama.

Khidmah di pesantren dapat dilakukan dengan banyak cara, lebih spesifiknya terbagi dua golongan para khadim (orang yang khidmah/mengabdi). 

Pertama, khidmah di ndalem (bahasa Jawa:rumah) pengasuh atau Kiai. Khidmah yang ini mengabdi langsung ke pengasuh dengan membantu pekerjaan dan semua urusan pengasuh atau Kiai seperti membersihkan rumah, mencuci pakain dan merawat pakaian, memasak, membantu mengurus putra-putrinya, mengurus usahanya, menjadi sopir pribadi dan dan tidak jarang merawat barang-barang pribadi yang dimiliki seorang pengasuh dan keluarganya.

Kedua, khidmah terhadap pesantren bagian asrama. Biasanya khidmah yang ini membantu pengasuh dalam mengurus santri-santri dan menyediakan kebutuhan para santri. Khidmah yang seperti ini berbentuk sebuah organisasi kepengurusan atau biasa di pesantren modern disebut dengan mudabbir-mudabbirah. 

Organisasi ini berisi lurah pondok, wakil, sekretaris, bendahara, bidang keamanan dan kedisplinan, bidang kebersihan, bidang pendidikan, bidang perlengkapan, bidang perlistrikan dan perairan, bidang kesehatan serta bidang-bidang lainnya yang dibutuhkan setiap pondok pesantren. Untuk tugasnya sudah jelas sama dengan nama jabatan yang diembannya.

Lalu, siapa saja yang bisa menjadi khadim-khadimah pesantren? Semua santri bisa berkhidmah pada pesantren serta pak kyai dan bu nyai asal dilakukan dengan hati ikhlas dan lillah. Karena hidup di pesantren yang juga diiringi dengan berkhidmah sangat sulit dijalani. 

Waktu belajar akan berkurang dan jika tidak mahir membagi waktu akan tertinggal pelajaran dan pemahamannya. Tidak jarang terjadi santri khidmah yang telat masuk kelas karena baru selesai bertugas di ndalem atau mengurus hal lain yang berhubungan dengan khidmah pesantren.

Santri yang ingin menjadi khadim bisa langsung meminta ke pengasuh atau ada juga yang ditunjuk langsung oleh pak kyai dan bu nyai. Santri yang sowan atau menemui pak kyai di ndalem untuk bisa ikut mengabdi biasanya adalah santri yang sebelumnya sudah pernah mondok atau sudah paham tentang kehidupan di pesantren secara detail sehingga dia memiliki niat untuk mengabdikan diri ke kyai dan pesantren. 

Atau jika santri yang dipilih oleh pak kyai dan Bu nyai biasanya memiliki keunggulan tersendiri sehingga bisa menarik perhatian. Sungguh beruntung sekali santri yang menjadi pilihannya. 

Biasanya santri yang seperti ini disebut santri istimewa oleh santri lainnya.

Untuk santri yang mengabdikan ke pesantren, yakni yang membantu mengurus para santri biasanya melalui senior-senior yang melakukan musyawarah dan penilaian terhadap santri tersebut. Penilaian dilihat dari kemampuan yang dimiliki seperti, memiliki sifat tegas, rajin,taat peraturan dan bisa di ambil dari sisi lainnya seperti bersih dan rapi, peduli terhadap orang lain, pekerja keras dan sebagainya. 

Para mudabbir seperti ini akan berpengalaman dalam berorganisasi, lebih banyak tampil dimuka umum, dan tentunya akan lebih mudah dikenal oleh santri lain khususnya santri baru. Karena mereka mempunyai jabatan yang menjadi identitas pribadi selama mengabdi.

Dalam masa pengabdian, rasa lelah tetap ada tetapi kadang tidak terasa karena hati yang tulus menjalaninya akan membuahkan hasil yang begitu istimewa. Tidak sedikit kisah para pengabdi yang sukses setelah itu. 

Di kalangan ulama salaf meyakini bahwa dibalik khidmah kepada kyai terdapat barokah yang terus mengalir. Dari barokah inilah yang akan menentukan kehidupan para khadim selanjutnya. 

Dan ilmu yang didapat akan berlipat ganda dari santri yang paling pintar. Ibarat 

“orang yang paling pintar akan kalah dengan orang yang bejo” 

ini lah khidmah santri.

Benar adanya yang dikatakan di atas. Seperti contohnya adalah di pesantren sering diadakan kegiatan yang mengundang kiai dari luar atau para habib. Dalam momen seperti ini tentu banyak santri yang berebut bersalaman, berebut sisa hidangan beliau seperti sisa minuman dan makanan. 

Sudah jelas akan sulit mendapatkan hal itu jika kita tidak ahli dalam melakukannya, akan tetapi sungguh beruntung bagi santri yang khidmah di ndalem atau santri Khidmah lainnya. Karena mereka akan mencari berkah para ulama tersebut tanpa harus berebutan dengan santri lain. Mereka akan melakukannya dengan santai artinya tanpa harus ikut dalam aksi serbuan. 

Santri ndalem akan mempersiapkan semua kebutuhan para tamu ulama itu dan dari sana mereka juga akan mendapat kesempatan bersalaman dan foto bersama atau hanya sekedar mendapat sisa makan yang dihidangkan di kamar tamu jika bermalam di pesantren tersebut. 

Sungguh, ini merupakan nikmat yang luar biasa dari mengabdi. Bisa bertemu dengan ulama secara mudah, bisa dikenal dan dekat dengan kiai juga keluarganya.

Menjadi seorang khadim di pesantren diyakini akan mendapat berkah yang melimpah dari seorang guru atau kiai. Walaupun terkadang ditemukan kesulitan dalam belajar, akan tetapi memang itulah yang harus dirasakan jika berjuang untuk kemenangan. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Dari sini bisa dikatakan bahwa Khidmah terhadap kiai dan pesantren sangat diperlukan karena hal ini lah yang menjadi salah satu ikhtiar kita dalam membalas jasa beliau selama ini yang sudah memberikan banyak ilmu dan dibimbing dalam kebenaran. 

Dan itu pun tidak sepenuhnya bisa membayar jasa beliau, karena tidak ada harganya. Jika dihargai kita tak akan mampu membayarnya. Maka dari itu, berikan waktumu wahai santri untuk mengabdikan dirimu terhadap gurumu sendiri.

Penulis:
Nera Afriyanti

Post a Comment for "Pentingnya Khidmah Ndalem dan Pesantren Bagi Seorang Santri"