Kisah Tentang Nderekke Mbah Son Naik Pesawat Tua

Mbah Warsun

JIGANG.ID - Pasca 1998/1999, KH. Ahmad Warson Munawwir atau yang biasa kita panggil dengan "Bapak" atau "Mbah Son" aktif di dunia politik praktis lewat Partai Politik dan politik keumatan dan kebangsaan lewat forum kyai khos atau kyai langit karena sesepuhnya adalah KH. Abdullah Faqih Langitan Tuban.

Mbah Son selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan tersebut, karena memang beliau didawuhi kakak beliau Almaghrurlah KH. Zainal Abidin Munawwir untuk aktif diluar pesantren, berjuang lewat jalur Politik dan kebijakan.

Beliau sering tindakan menghadiri pertemuan2, rapat, musyawarah, halaqoh, bahsul masail dll, baik di Jakarta, Langitan, Kediri, Surabaya, Magelang, Pati, dan lainnya. Setiap beliau tindak, selalu ada pengurus/santri yang nderekke beliau.

Alhamdulillah saya cukup sering nderekke beliau. Tugas saya mulai dari cek in pesawat, bawakan tas, menghubungi alumni di lokasi tujuan untuk jemput di bandara dan ngantar ke lokasi acara PP, plus harus bisa nyambung jika beliau ngendiko terkait analisis sosial politik dan kitab-kitab. 

Di sela-sela perjalanan, terkadang beliau cerita ketika masih kecil bersama bu Nyai Sukis, ngaji ke Mbah Ali Maksum, perjuangan beliau menulis kamus Al Munawwir, berjualan warung klontong sembako dan lainnya.

Suatu siang, saya ditelpon untuk menghadap beliau karena besuk pagi ada pertemuan kyai-kyai sepuh di Pesantren Langitan Tuban. Saya didawuhi cari tiket pesawat Jogja-Surabaya dan alumni penjemput dari Bandara Juanda ke Langitan PP. Beliau ngersakke langsung pulang tanpa nginap. 

Setahu saya pada waktu itu Jogja-Juanda hanya ada satu pesawat berangkat jam 06.00 pagi, dan Juanda-Jogja juga hanya ada satu kali jam 18.00. Akhirnya beli dua tiket untuk beliau dan saya.

Pagi habis subuh, saya sdh siap didepan ndalem beliau untuk nderekke beliau Jogja-Juanda Surabaya-langitan Tuban. Perjalanan berangkat lancar.

Acara di Ndalem Romo KH. Abdullah Faqih berlangsung hingga jam 15.00. Selesai acara, dengan naik Sedan yang masih gress kembali menuju Bandara Juanda. Sholat maghrib, kemudian bersiap masuk Pesawat. Ketika naik cari tempat duduk, ternyata tempat duduk Mbah Sun dan saya berada nomer 3 dari belakang. Pesawat terlihat sudah tua dan dari arah belakang terdengar ngung.....ngung.

Hati saya deg-degan, berdebar-debar, waduh pesawate kok koyo ngene, padahal durung nikah je. batin saya.

Mungkin saya terlihat takut dan kalut, tiba-tiba mbah Son dengan senyum khasnya dawuh ;"Rasah wedi, kabeh wis dicatet taqdire. Kudu iman qodho' qodare Gusti Allah" - Tidak perlu taku, semua sudah ada takdirnya, harus percaya dengan qadha dan qadar Allah.

Hati saya langsung mak cess, bismillah, doa, terus tawakal kabeh wis ono taqdire. Terbang Surabaya-Jogja yang hanya 45 menit itu saya jalani dengan santai. Mbah Sun cerita banyak hal terkait situasi sosial politik dan respon kyai langit atas hal tersebut.

Di sini saya betul-betul belajar secara langsung, bahwa iman itu harus mancep dihati, bukan hanya diucapkan, diyakini bukan hanya dipikirkan.

Untuk KH. Zainal Abidin Munawwir dan KH. Ahmad Warson Munawwir Alfatihah.

Penulis
Dosen IIQ An-Nur Yogyakarta

Post a Comment for "Kisah Tentang Nderekke Mbah Son Naik Pesawat Tua"