Konstruksi Sosial dan Alasan Perempuan Jadi Teroris

Perempuan dan Terorisme

JIGANG.ID - Ketika kita berbicara gender, maka yang ada di benak kita adalah konstruksi sosial terkait dengan sifat, peran, karakteristik laki-laki dan perempuan. Konstruksi sosial ini diartikan sebagai sebuah harapan masyarakat yang timbul sudah sejak zaman dahulu hingga sekarang. Bahkan konstruksi gender ini ditransmisikan hingga saat ini.

Misalnya laki-laki dianggap kuat dan perempuan lemah, perempuan lebih empati dan laki-laki cenderung rasional, laki-laki bekerja di ranah publik dan perempuan bekerja di ranah domestik. Berbagai anggapan yang ada bukan merupakan sesuatu yang alamiah yang dilabelkan pada laki-laki dan perempuan.

Tampaknya konstruksi gender yang dihadirkan masyarakat kian hari kian terkikis perubahan. Dalam sudut pandang penulis, rentang waktu sekarang ini, anggapan perempuan sebagai makhluk yang lemah dan menekankan sikap empati sudah berubah menjadi perempuan yang kehilangan empatinya. Anggapan tersebut terkikis dengan peristiwa yang marak akhir-akhir ini. Apa?

Ialah aksi terorisme yang dilakukan oleh sepasang suami-istri yang baru saja nikah selama kurang lebih tujuh bulan. Aksi ini terjadi halaman Gereja Katredal Makassar pada hari Minggu tanggal 28 Maret 2021. Hal ini menunjukkan anggapan perempuan sebagai sosok yang empatis sudah terkikis.

Selain itu, konstruksi sosial tentang laki-laki kuat. Sejak kecil, dalam perkembangannya laki-laki sering diberi mainan berupa pistol. Ini menandakan bahwa laki-laki harus berani terhadap apapun yang secara nalurinya tidak sesuai atau bertentangan. Atau seorang laki-laki yang sejak kecil tidak diizinkan untuk menangis hanya karena ia laki-laki.

Pelabelan laki-laki tidak boleh cengeng dan perempuan boleh cengeng melekat hingga saat ini.

Pelabelan laki-laki harus berani dan tidak boleh cengeng pada akhirnya juga menjadi sebab laki-laki harus memberanikan dirinya untuk menjadi teroris.

Lalu bagaimana dengan perempuan yang boleh cengeng? Hari ini, perempuan yang bersifat cengeng itu menjadi perempuan yang pemberani. Hingga melakukan tindak pidana teroris pun perempuan berani.

Bagaimana dengan perempuan yang diberikan mainan boneka dengan harapan ia menjadi seseorang yang lembut di dalam berbagai hal? Nyatanya, perempuan meski sejak kecil bermain boneka, tidak dapat menjadikan dirinya terkonstruksi sebagai seseorang yang lemah lembut.

Kejadian tindak kejahatan teroris beberapa tahun terakhir termasuk sebelum tragedi bom Surabaya dan Sidoarjo, yang melibatkan seorang perempuan menjadi bukti bahwa perempuan tidak bisa selalu dilabeli dengan sikap yang lembut hanya karena mainan saat kecil mereka adalah boneka.

Dalam tindak pidana terorisme, kita tidak bisa hanya mengacu bahwa tindakan itu dilabelkan kepada laki-laki karena pada kenyataannya, perempuan sudah banyak yang berkecimpung di dunia terorisme.

Dengan demikian, saya mencoba merangkum dari beberapa penelitian yang ada, mengapa perempuan memutuskan untuk menjadi teroris bersama dengan sang suami, walaupun hal ini bertentangan dengan konstruksi sosial terhadap mereka.

Pertama, beberapa penelitian sudah menjelaskan bahwa perempuan ikut aktif dalam tindakan terorisme karena suaminya juga menjadi anggota aktif dalam kelompok-kelompok teroris. Meskipun diantara mereka banyak yang tidak tau kelompok apa yang diikuti suaminya dan hanya ikut-ikutan saja

Kedua, narasi tafsir ayat-ayat tentang ketaatan kepada suami. Aqil Siroj beru-baru ini mengeluarkan fatwa bahwa pintu masuk adanya gerakan terorisme tidak lain adalah ajaran Wahabi dan Salafi. Lalu bagaimana ajaran Wahabi dan Salafi memandang ayat tentang ketaatan istri kepada suami?

Slogan Wahabi dan Salafi yang terkenal ialah semangat untuk kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah atau al-ruju’ ila al-Qur’an wa ss-sunnah. Dengan kata lain, ia menolak suatu paham yang menolak pada hermeneutika, pluralisme, dan relativisme (lihat pada Ilyas, 2004, 26-27).

Maka cara mereka untuk kembali kepada al-Qur’an dan sunnah terbatas pada tekstualitas pemahaman keduanya. Sehingga paradigma yang dibangun adalah pentingnya penerapan syariah (lihat pada Abdullah, 2016).

Selanjutnya, Ar-rijalu qawwamuna ‘ala an-nisa’ dan menempatkan perempuan sebagai fitnah agaknya menjadi paradigma yang cukup kuat untuk memosisikan laki-laki di atas perempuan. Artinya laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan yang pada akhirnya perempuan dinilai tidak independen dan tidak otonom.

Perempuan diproyeksikan mengambil peran dengan memenuhi kewajibannya hanya melalui laki-laki. Narasi yang ditekankan dalam ayat tersebut ialah narasi ketaatan. Sehingga ketika suami memutuskan untuk menjadi teroris, maka keputusan mereka adalah keputusan akhir. Artinya, perempuan harus mengikuti keputusan dan menjadi pengikut setia suami.

Ketiga, akhir-akhir ini banyak laki-laki yang sudah mati dalam bom bunuh diri sehingga porsinya mulai menurun. Akibatnya, perempuan dijadikan sebagai alat untuk memperolok laki-laki yang tidak berani menjadi penerus teroris. Perempuan digunakan sebagai umpan untuk memancing ketidakberdayaan dan ketidakberanian laki-laki.

Dengan demikian, perlahan laki-laki akan tergelitik dengan keberanian perempuan yang mengorbankan dirinya dalam tindakan yang mereka sebut sebagai pemembelaan agama.

Keempat, menurut pandangan saya dengan analisis teori gender, alasan perempuan menjadi teroris karena ingin menunjukkan bahwa mereka adalah sosok yang kuat. Selama ini mereka hanya dianggap sebagai seorang yang lemah dan penakut. Sehingga dalam beberapa sisi kehidupan mereka dikesampingkan atau termarginalisasi.

Menjadi teroris adalah ajang untuk menunjukkan pada dunia nasional maupun internasional bahwa mereka bukan sosok yang lemah dan penakut. Saya melihat dari sisi berbeda, menjadi teroris bisa saja digunakan sebagai dasar kesetaraan gender.

Dari pemaparan di atas, alasan perempuan terlibat dalam tindak pindana terorisme memang beragam. Berbagai perspektif tersebut tidak bisa kita gampangkan karena dapat membahayakan keamanan bersama dan dapat menurunkan imej perempuan.

Dengan demikian, perlu adanya pencegahan tindak terorisme dimulai dari ranah keluarga inti misalnya dengan pemberian khutbah nikah yang moderat di awal pernikahan. Mengapa khutbah nikah penting? Mengingat menjamurnya pasangan suami istri yang menjadi teroris.

Penulis: Rois Islamiyati

Diambil dari situs harakatuna

Posting Komentar untuk "Konstruksi Sosial dan Alasan Perempuan Jadi Teroris"