Pemikiran Tauhid Imam Ghazali dalam Kitab Qawaidul Aqaid

JIGANG.ID - Imam al-Ghazali, siapa yang tak mengenal sang hujjah al-islam, seorang anak dari keluarga pemintal dan penjual wol, ternyata menjadi seorang yang sangat berpengaruh baik dari dunia islam sendiri bahkan sampai maupun dalam sejarah keilmuan barat.

Tauhid Imam Ghazali
Photo by Gwen Weustink on Unsplash

Dalam salah satu karya beliau berjudul Qawa’id al-‘Aqaid, begitu rinci menjelaskan bagaimana prinsip-prinsip teologi untuk mempertahankan akidah islam dari para penyebar bid’ah. Karya ini menolak pemikiran dari golongan-golongan yang berseberangan, dengan kata lain dalam kitab ini beliau berusaha menyelamatkan umat islam dari teologi yang tercampur dalam bid’ah.

Oleh karena itu, Imam Ghazali merupakan salah satu ulama penerus akidah Asyariyah. Beliau secara terperinci menjelaskan makna-makna yang terkandung dalam dua kalimat syahadat guna mempertahankan kemurnian akidah ahlussunnah wal jama’ah, beliau juga membentengi islam dari godaan pemikiran yang terlampau ekstrem dan liberal, yang lebih jauh lagi dan tak sejalan dengan sumber islam.

Dalam tulisan ini akan sedikit memaparkan bagaimana akidah ahlussunnah wal jama’ah dalam bertauhid dan mengimani Rasulullah berdasarkan pemikiran Imam Ghazali di kitab Qawaidul Aqaid, untuk menjaga keimanan serta kemurnian akidah dari teologi-teologi yang mengancam kemurnian akidah di masa modern ini.

Makna Syahadat Tauhid

Kemahasucian (Al-Tanzih)

Bahwasannya Dia bukanlah seperti  materi yang berbentuk, bukan pula intisati yang terbatas dan terukur. Tidak menyerupai berbagai jenis materi, Dzat yang tidak bersifat esensial serta bukan pula yang bersifat nonesensial. Sesungguhnya Allah independen dari makhluk ciptaan-Nya dengan sifat-sifat Nya. Dengan segala sifat kemahasucian yang dimiliki-Nya, mustahil ada seorang atau sesuatu apapun yang bisa menandingi apa lagi sampai menyerupai-Nya.

Hidup (Al-hayah) dan memiliki kuasa (Al-Qudrah)

Allah adalah Dzat yang hidup dan berkuasa, otoritatif dan memiliki daya paksa, Allah itu hidup dengan sifat kehidupan azali, tidak mungkin bagi-Nya untuk kehilangan sifat hidup-Nya dan Dia selalu dan senantiasa hidup selamanya.

Seorang hamba hendaknya tidak mempertanyakan bagaimana ada nya Allah, karena Dia ada tanpa harus memiliki sebab dan akibat, yang benar Dia lah yang menyebabkan seluruh bumi dan seisinya ada. Dia juga berkuasa dengan sifat kekuasaan yang azali, yakni berlaku selamanya.

Mengetahui (al-‘ilm)

Sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu, baik yang ada atupun tidak, mungkin ataupun mustahil, baik secara parsial maupun keseluruhan, tidak ada satu pun di alam semesta ini yang luput dari pengetahuan-Nya.

Berkehendak (al-iradah)

Sesungguhnya Dia yang berkehendak atas segala sesuatu, sehingga tidak ada satupun hal baik kecil maupun besar yang terjadi tanpa kehendak-Nya, tidak ada yang mampu menggugat atau pun menolak kehendak-Nya. Seandainya jin, malaikat, manusia, dan setan bersepakat menggerakkan satu zarrah pun di muka bumi ini tanpa kehendak-Nya, sungguh mereka tidak akan mampu melakukannya.

Mendengar (al-sam’) dan Melihat (al-bashar)

Pendengaran-Nya tidak dihalangi oleh jarak, penglihatan-Nya pun tidak dibatasi dengan kegelapan. Tidak ada suatu hal pun dari penciptaannya yang luput dari pendengaran serta penglihatan-Nya.

Berbicara (al-kalam)

Allah berbicara dengan ucapan yang bersifat azali, yang melekat pada Dzat Nya, ucapan-Nya tidak sama seperti makhluk, tidak seperti getaran dan tidak berbentuk huruf. Al-Qur’an, Taurat, Injil, Zabur, merupakan kitab-kitab yang diturunkan kepada RasulNya, Al-Qur’an dibaca dan ditulis dalam bentuk mushaf-mushaf, namun walau demikian Al-Qur’an tetap Qadim yang melekat pada Dzat Allah.

Memiliki perbuatan (al-af’al)

Bahwasannya tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa bentuk perbuatan-Nya. Setiap sesuatu selain-Nya, baik itu manusia, jin, malaikat, setan, langit, bumi dan seluruh yang ada di dalamnya baik yang tampak maupun tak nampak itu tercipta atas kekuasaan-Nya. Sebelum semuanya diciptakan oleh-Nya, Dia telah ada pada zaman azali tanpa ada yang menyertai-Nya, kemudian Allah mewujudkan penciptaan-Nya untuk menujukkan kekuasaan-Nya dan sebagai realisasi untuk kehendak-Nya yang sudah lalu, untuk ketetapan-Nya sejak zaman azali, bukan karena kebutuhan-Nya untuk merealisasikannya.

Makna Syahadat Rasul

Allah mengutus Nabi Muhammad yang ummi (tidak bisa baca tulis) dari golongan kabilah quraisy dengan membawa risalah (kerasulan) kepada semua bangsa, baik Arab, maupun bangsa selain arab (‘ajam), kepada golongan jin maupun manusia, dengan syariat yang menghapus semua syari’at yang ada sebelumnya kecuali beberapa yang di akui olehnya. Allah pun mengunggulkannya atas nabi-nabi yang lain dan menjadikannya sebagai pemimpin manusia. 

Allah menjadikan syahadat rasul sebagai syarat kesempurnaan iman. Allah juga mewajibkan setiap makhluknya untuk membenarkan segala sesuatu yang di beritakan oleh Nabi Muhammad SAW.baik itu perkara dunia maupun akhirat.

Dari pemaparan makna dua kalimat syahadat di atas yang telah imam Al-Ghazali jelaskan dalam karya nya Qawa’id al aqa’id, bisa dipahami secara jelas perbedaan antara akidah ahlussunah wal jama’ah sangat berbeda dengan firqah-firqah yang lain. Seperti muktazilah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, pemikiran Qadariyah yang mengatakan pekerjaan manusia itu bersumber dari manusia itu sendiri tanpa disertai kehendak Allah, pendapat kaum musyabbihah yang menyatakan bahwa Allah bermuka dan bertangan.

Serta keyakinan Ahmadiyah yang tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir, lalu menambahkan nama mirza gulam ahmad sebagai nabi mereka, tentu itu semua sangat bertentangan dengan akidah Ahlussunnah wal jama’ah. Inilah mengapa imam Al-Ghazali dalam Qawa’id al Aqa’id dengan tegas menerangkan secara rinci bagaimana menjaga kemurnian akidah dari para penyebar bid’ah.

Sumber Bacaan 
Abdul Latif, Muhammad, 2020, Teologi Al-Ghazali Terjemah Qawa’id Al-Aqa’id, Yogyakarta, Forum
Abdul Aziz, Nawawi, 2007, Alaikum Bissawadil A’dhom, Kudus, Menara Kudus

Penulis: Samanarnik

Posting Komentar untuk "Pemikiran Tauhid Imam Ghazali dalam Kitab Qawaidul Aqaid"