Mengungkap Nasab Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga

JIGANG.ID - Beliau adalah Muhammad Alfatih Suryadilaga ibn Miftahul Fattah ibn Muhamamd Amin ibn Musthofa ibn Abdul Karim ibn Abdul Qohhar ibn Darus bin Qinan ibn Ali Mas’ud ibn Ahmad Rifa’i ibn Bisyri ibn Ahmad Dahlan ibn Muhammad Ali ibn Hamid ibn Shodiq ibn R. Qosim (Sunan Drajad) ibn Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) ibn Syeikh Maulana Ibrahim Assamarqandi ibn Maulana Jamaluddin Akbar. 

(Sumber: Kumpulan Data Keluarga Besar Bani Musthofa Abdul Karim Pada Silaturrahim Akbar XII, PP Al-Karimi Tebuwung, Gresik, 25 Desember 2016). Ini adalah nasab beliau dari jalur kakek.

Sedangkan dari jalur nenek, Nyai Aminah binti Mahbub ibn Ali jika diurut hingga ke atas akan sampai ke Pangeran Pajang alias Lembupeteng alias Joko Tingkir dan seterusnya hingga sampai ke Brawijaya, Raja Majapahit. 

(Sumber: Silsilah KH. Abul Djabbar Maskumambang, Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Kyai Abdul Djabbar, Panitia Silaturrahim XIII Tahun 2005 M di Kediri).

Kakek dan nenek beliau, pasangan suami istri KH. Muhammad Amin yang lebih dikenal dengan Kyai Amin dan Mbah Haji Aminah atau orang tempat kami di Tunggul memanggil beliau Mbah Kaji ini bukan pasangan biasa, menurut riwayat muttashil yang saya terima dari paklek Gus Muh, KH. Abdullah Amin, yang menjodohkan adalah Hadhrotussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, Rai’s Akbar Nahdlotul Ulama.

Nasab Dr Alfatih Suryadilaga

Gus Muhammad Alfatih Suryadilaga (Gus Muh, Mas Muh, demikian kebanyakan orang di tempat kami memanggil beliau, dan setahu saya di tempat lain, terutama di Yogyakarta panggilan beliau Pak Fatih atau Gus Fatih) dan saudara kembarnya Gus Ahmad Alfikri Suryadinata (Gus Ah, Mas Ah, Pak Ah), kini keduanya telah berpulang menghadap al-Khaliq, Gus Ah meninggal pada bulan Ramadhan tahun 2010 di IRD Dr. Sutomo Surabaya dan Gus Muh pada hari Selasa 2 Februari 2021, pukul 23:37 WIB di Yogyakarta.

Saudara kembar, Gus Muh “lebih tua” dari Gus Ah, yang keduanya kini sudah berpulang, meskipun pada tahun yang berbeda, 2010 dan 2021, namun menurut adik kandungnya, Allah mentaqdirkan beliau berdua wafat dengan sakit yang sama, dan wafatnya pada jam yang sama.

Gus Muh, lahir dan dibesarkan di keluarga pesantren, masa kecil beliau belajar di pondok yang diasuh ayah beliau sendiri di Pondok Al-Amin, Tunggul Paciran Lamongan. Pondok yang didirikan oleh kakek beliau, KH. Amin atau orang pantura mengenalnya dengan sebutan Kyai Amin atau Mbah Yai Amin, sang pendiri “Pondok Al-Iman wa al-Islam”, yang dikemudian hari oleh diganti dengan nama Yayasan Pondok Pesantren Al-Amin, untuk mengenang jasa KH. Amin.

Gus Muh dan kembarnya Gus Ah, beliau memang lahir dari keluarga ahlil Qur'an, ayah beliau ulama’ yang hafiz mutqin, saya mendengar riwayat bahwa KH. Miftah, ayahanda Gus Muh mampu menghafal al-Qur’an hanya dalam waktu 3 bulan, dan kakek beliau KH. Amin mampu menghafal al-Qur’an hanya dalam waktu satu bulan. Sebagaimana ayah dan kakek beliau, Gus Muh juga hafidz al Qur'an, beliau hanya satu tahun mengkhatamkan hafalan al-Qur'an di salah satu ma’had di Jombang, bahkan ada yang mengatakan khatam hanya dalam waktu 4 bulan.

Di samping itu yang saya ketahui saat berulangkali saya tinggal di rumahnya saat masih di Surabaya dan di Yogyakarya, Gus Muh sosok yang ahli tahajjud, selalu berusaha menjaga wudhu agar selalu dalam kesucian, dan juga ahli silaturrahim, yang menonjol sekali dari beliau dalam tindak tanduknya adalah tampilan beliau yang selalu apa adanya, penuh sahaja, sesuai dengan kondisinya, tidak mengenal “takalluf” dalam hidupnya, hidup apa adanya tanpa beban, dan yang bersahabat dengan beliau, akan selalu mendapatinya selalu tersenyum, sosok penyabar, bicaranya datar.

Selama bertahun-tahun saya mengenal beliau, sepertinya belum pernah melihat bermuka marah, kalau menegur pun biasanya dengan sangat lembut dan menggunakan diksi kata yang santai penuh persahabatan.

Gus Muh, juga sosok yang sangat gigih, semenjak kecil sudah terbiasa disiplin, saya tidak begitu heran dengan kegigihan beliau, sebab ayah beliau juga sangat gigih, semenjak saya masih kecil diusia MI (Madrasah Ibtidaiyah) saya memperhatikan dalam kondisi apapun KH. Miftah akan didapati selalu berwirid dengan al-Qur’an, saat duduk, berjalan, naik sepeda, naik mobil, saat bekerja… dan bisa dikatakan hidup ayahanda Gus Muh adalah dzikir dengan al-Qur’an, pada tanggal 20 Agustus 2016 saat rumah kami di Malaysia mendapatkan kebekahan tak ternilai dengan berkenannya KH. Miftah sekeluarga untuk singgah di kediaman kami, setelah shalat shubuh beliau juga langsung wirid al-Qur’an. 

Kegigihan ini sepertinya juga turunan dari kakek beliau, KH. Amin, saat saya bersilaturrahim ke rumah famili beliau saya seringkali menelisik kehidupan leluhur Gus Muh, Hajjah Hindun Rohimah Amin, budhe Gus Muh menceritakan, jika Kyai Amin agak mengantuk saat membaca al-Qur’an, maka beliau akan mengambil kayu dan meletakkannya di atas sumur, lalu beliau akan duduk di atas kayu tersebut dan dengan duduk di atas kayu yang ukurannya sekedar cukup untuk duduk, beliau memuraja’ah hafalan beliau, risikonya jika mengantuk pasti akan terjatuh ke sumur, bahkan saat menunaikan haji tahun 1930an, menurut putra bungsu beliau.

KH. Amin berniat haji dengan haji ifrad dimulai setelah masuk syawwal, beliau berihram selama dua bulan lebih, tentu bukan hal yang mudah, sebuah upaya disiplin dalam menempa diri (riyadhah) yang luar biasa. 

Memang Kyai Amin dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin, Prof. Dr. Husnul Aqib Suminto, penulis disertasi yang menjadi referensi penting dalam sejarah Indonesia “Politik Islam Hindia Belanda” adalah salah satu murid Kyai Amin yang dididik dengan sangat disiplin, bahkan saat di sawah pun Kyai Amin masih mengajar, mendidik, dan mentarbiyah murid-muridnya, demikian tutur almarhumah Hajjah Hindun Rohimah.

Kegigihan kakek beliau ini bukan hanya dalam ritual ibadah, tapi juga keteguhan sikap, kakek beliau menjadi tokoh muda yang sangat anti penjajahan, riwayat dari Yai Miftah, Kyai Amin muda saat usia 12 tahun sudah berani berhadapan dengan serdadu Belanda, dan akhirnya kebencian dengan penjajahan tersebut mengkristal hingga akhirnya beliau menjadi komandaan Laskar Hizbullah wilayah Lamongan Tuban dan Gresik, tugas beliau adalah mempertahankan dari serangan Belanda dari wilayah Utara.

Tepatnya, tugas tersebut di Surabaya Utara, terlibat dalam pertempuran bersenjata, pernah dijebloskan di penjara di Paciran, pernah bersembunyi dari kejaran Belanda di rumah Buyut Kartiyo rumahnya persis di depan rumah saya, salah satu sahabat dekat Kyai Amin, dan saat terjadi peristiwa agresi militer Belanda ke-2 beliau dan saudara kandungnya ditangkap dan akhirnya keduanya ditembak mati oleh serdadu Belanda dan gugur syahid pada tanggal 13 Ramadhan 1368 H. atau tanggal 9 Juli 1949 M.

Di desa Dagan Solokuro Lamongan dan juga dikuburkan di desa tersebut, cerita yang mutawatir, Kyai Amin mengumandangkan adzan terlebih dahulu sebelum ditembak. Kakek Gus Muh adalah sosok ulama’ yang gigih dan idealis, di dalam darah Gus Muh mengalir darah mujahid pejuang kemerdekaan RI yang bertaruh nyawa dalam membela negara.

Gus Muh kelahiran tahun 1974, satu kampung dengan saya, lahir pada tahun yang sama, MI, MTs dan MA di sekolah yang sama, bahkan keluarga kami sangat rapat dengan keluarga beliau, hingga adik kandung saya menikah dengan sepupunya.

Kami bersahabat semenjak kecil, beliau kakak kelas saya satu tahun, selama sekolah di MTs dan MA "Tarbiyatut Tholabah" Kranji (di pesantren yang didirikan oleh KH. Musthofa, buyut beliau), saat pergi sekolah, saya selalu pergi bersama beliau, sebelum jam 7 pagi saya sudah stand by di depan rumahnya, dan tepat jam 7 pagi Gus Muh dan Gus Ah saudara kembarnya akan menjabat dan mencium tangan ayahanda beliau Yai Miftahul Fattah yang pada jam tersebut selalunya sedang tasmi' Al Qur'an dari para santri tahfiznya, dan setelah pamitan berangkatlah kami bertiga ke sekolah, demikianlah berlaku setiap hari pergi bersama sampai beliau selesai Aliyah.

Dan ada hal yang sangat penting saat selelau membersamai beliau pergi sekolah, saat sampai di gerbang pondok dan jika kebetulan berpapasan dengan Allahuyarham Romo Yai Mohammad Baqir Adlan, pengasuh PP. “Tarbiyatut Tholabah”, maka Gus Muh dan Gus Ah akan segera mendekati beliau dan mencium tangan beliau, dan alhamdulillah saya pun selalu ikut mendapatkan keberkahan luar biasa ini.

Setelah beliau lulus Aliyah, kami berpisah, beliau pergi ke ma’had tahfiz di Jombang dan kembarnya menghafal al-Qur'an langsung dengan ayahnya, kemudian Gus Muh melanjutkan ke IAIN Surabaya dan Gus Ah kembarannya melanjutkan studi ke PTIQ Jakarta dan saya sendiri ke PP. Daruttauhid Alhasaniyyah, Sendang Senori Tuban untuk kemudian ke LIPIA, Jakarta. 

Dan semenjak tahun 1996 sudah sangat jarang bertemu, untuk kemudian Gus Ah mengelola Yayasan Pendidikan Al-Amin, Gus Muh bertugas di UIN Yogyakarta, dan saya di IIUM Kuala Lumpur, pertemuan kami hanya sesekali saja saat sedang bertepatan kami semua ada di kampung waktu liburan tertentu, atau saat kami saling mengunjungi.

Dengan hubungan yang begitu dekat, Gus Muh, Gus Ah, termasuk orang-orang yang kabar kepergiannya membuat saya tak mampu membendung air mata, terus mengalir hingga membuat tubuh saya lemas dan lunglai, tapi qadha’ dan qadar harus diterima dengan ridha dan mengucap Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.

Ada sekian banyak hal yang saya belajar dari beliau, beliau berdua; kegigihan, ketekunan, kedisiplinan, ketelitian, dan yang sangat patut ditauladani adalah sifat tawadhu’ beliau berdua.

Teringat, saat kami berangkat bersama ke sekolah saat MTs dan Aliyah antara tahun 1986-1991, begitu sampai di kelas, di PP. Tarbiyatut Tholabah Kranji, Gus Muh dan Gus Ah akan meletakkan tas dan langsung mengambil sapu, dan putra kembar seorang ulama ini akan bersama-sama menyapu kelas, tanpa ikut jadwal yang ditempel, beliau tidak mempedulikan jadwal, tapi yang beliau perlihatkan adalah dedikasi, tiap hari keduanya akan menyapu kelas... Sosok yang sangat tawadhu', pada saat yang sama darah biru mengalir di tubuhnya.

Gus Muh, juga sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, beliau memandang ayahnya, bukan hanya ayah sebagai kepala rumah tangga saja, yang saya perhatikan beliau berinteraksi dengan orang tuanya, di samping sebagai ayah kandung, namun lebih dari itu beliau di hadapan ayahnya seperti seorang murid dihadapan Kyai dan Murabbinya, sangat tawadhu' dengan orang tua, sehingga amaliyah Ta’limul Muta’allim bukan hanya saat di pondok dan sekolah, namun saat di rumah pun beliau mempraktekkanya.

Kepergian beliau membuat banyak orang menangis, hubungan sesama manusia beliau jalin dengan sangat baik, baik Gus Muh ataupun Gus Ah, yang sama sekali tidak pernah membeda-bedakan status seseorang, dengan siapapun akan dekat, dan sangat ramah, tidak pandang bulu, sosok yang memanusiakan manusia dengan seutuhnya.

Mas Muh, demikian panggilan saya untuk beliau, dan kembarnya Mas Ah, beliau memang kembar, dua orang yang berbeda raga, tapi bagi saya beliau adalah satu di dalam hati, terlalu banyak saya berhutang budi atas budi baik mereka berdua. Selamat jalan, do’a-do’a terbaik dari kami selalu menyertaimu, kami ridha dengan qadha’ dan qadarNya

رحم الله رفيق دربي الكريم ابن الكريم ابن الكريم ابن الكريم محمد الفاتح سورياديلاغا بن مفتاح الفتاح بن محمد أمين بن مصطفى بن عبد الكريم. اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه وأكرم نزله ووسع مدخله وجعل قبره روضة من رياض الجنة وأسكنه الفردوس الأعلى، ورحم الله توؤمه أحمد الفكري سوريايناتا رحمة واسعة، وأنزلهما منازل الصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد، والحمد لله رب العالمين.

Untuk keluarga besar YP. Al-Amin Tunggul, terutama KH. Miftahul Fattah Amin sekeluarga, istri Gus Muh dan putra putri beliau, semoga Allah limpahkan ketabahan dan kesabaran, dan mohon maaf sedalam-dalamnya karena tidak dapat sowan untuk ta’ziyah.

Muntaha Artalim
Kuala Lumpur, Ba’da Dzuhur, 3 Februari 2021
Department of Fiqh and Usul al-Fiqh
Kulliyyah of Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences
International Islamic University Malaysia

Posting Komentar untuk "Mengungkap Nasab Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga"