Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Iklan

Memahami Al-Asy’ariyah Sebagai Salah Satu Madzhab Akidah Islam

JIGANG.ID - Salah satu hal yang sangat penting dalam konsep pemikiran islam adalah menentukan relasi yang ideal antara wahyu dan akal dan bagaimana seharusnya memosisikan antara wahyu dan akal dalam mengeksekusi dan memahami ajaran Tuhan di kehidupan ini. 

tali akidah
Sumber Gambar Pixabay

Secara normatif wahyu dan akal adalah dua potensi yang telah mendapatkan pengakuan dari tuhan untuk diekploisasi manusia untuk mewujudkan cita-cita luhur yang di ridoi oleh Tuhan. Sadar tidaknya sejarah telah memberikan informasi aturan akal dan permasalahan yang muncul telah bertanggung jawab bagi hadirnya berbagai aliran.

Aliran pertama kali yang muncul dalam memainkan institusi akal dalam wacana keagamaan adalah aliran mu’tazilah yang berpaham Qodariyah. Dan setelah itu timbullah beberapa aliran di kalangan umat islam. sebelum aliran-aliran tadi muncul didalam dunia islam belum mengkhususkan sebuah madzhab dengan istilah madzhab ahlu sunnah waljamaah

Sebab semua umat islam yang pasif dapat disebut dengan ahlu sunnah wal jamaah. Kemudian munculkan madzhab Asy’ariyyah yang mencoba mengatasi berbagai faham dan menjadi penengah di dalam umat islam. karena persoalan pemikiran umat menyebabkan Asy’ariyah disebut madzhab ahlu sunnah awalnya.

Asy’ariyah adalah pengikut Abu Hasan Ali bin Isma'il al-Asy’ariy, dengan kata lain Abu Hasan Ali bin Isma’il al-Asy’ary adalah pencetus madzhab atau aliran Asy’ariyah, yang kemudian berkembang menjadi salah satu aliran teologi yang penting dalam Islam, yang selanjutnya dikenal dengan aliran al-Asy’ariyah, yaitu nama yang diambil dari nama Abu Hasan al-Asy’ariy sebagai peletak dasar-dasar aliran ini. Al-Asy’ariy hidup antara tahun 260-324 H, atau lahir akhir abad III dan awal abad IV H. Pada abad ini dikenal ada tiga aliran dalam sejarah pemikiran Islam antara lain:

Pertama, Aliran Salafiah, yang dipelopori oleh al-Imam Ahmad bin Hambal. Aliran ini dikenal sangat tekstual, yaitu menjadikan wahyu sebagai satu-satunya poros dan alat dalam memahami aqidah-aqidah Islam.

Kedua, Aliran Filosof Islam yang memahami aqidah-aqidah Islam dan membelanya harus berdasarkan akal dan naql dengan bertolak pada kebenaran-kebenaran akal sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.

Ketiga, aliran Mu'tazilah, aliran yang memadukan antara akal dan wahyu dengan tetap menjadikan akal sebagai penentu jika lahiriyah nash bertentangan dengan kebenaran-kebenaran akal.

Abu Hasan al Asy’ari pernah menganut paham Mu’tazilah dan bahkan menjadi murid kesayangan Abu Ali al-Jaba’i, seorang tokoh Mu’tazilah. Oleh karena itulah beliau memiliki kemampuan berbicara dan berdebat yang tidak kalah dengan gurunya. Namun kemudian beliau berbalik menjauhkan diri dari madzhab Mu’tazilah. Seruan yang bernada penentangan terhadap pemikiran madzhab mu’tazilah pertama kali dilakukan di masjid Bashrah pada suatu hari Jumat. 

Di antara seruannya antara lain beliau menyatakan diri telah bertaubat dari pemikiran Mu’tazilah yang menyakini bahwa Alquran adalah makhluk.

Dalam salah satu risalahnya Abu Hasan al-Asy’ari menyatakan bahwa banyak di antara pengikut Mu’tazilah dan ahli Qadar (madzhab Qadariyah) telah salah menempatkan sikap dengan mengikuti pemimpin yang masih hidup maupun yang telah mati secara taklid buta. 

Abu Hasan mengkoreksi kesalahan metodologis yang digunakan oleh kedua kalangan tersebut dalam menafsirkan maksud petunjuk Allah dalam al-Quran dan menjelaskan penyimpangan pemikiran yang disebabkan oleh kesalahan metodologis tersebut.

Metode al-Asy’ariy ini, diikuti oleh ulama yang datang setelahnya dan menisbahkan pendapat-pendapat mereka kepada Asy’ariyah, mereka inilah yang berperan dalam mengembangkan pendapat-pendapat al-Asy’ariy dengan menggunakan dalil-dalil logika yang rasional menghampiri kerasionalan Mu'tazilah. Tokoh tersebut ialah al-Baqillani, al-Juwaini, dan al-Ghazali.

Penulis; Afriyani
Mahasiswi IIQ An Nur Fakultas Ushuludin

Posting Komentar untuk "Memahami Al-Asy’ariyah Sebagai Salah Satu Madzhab Akidah Islam"