Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Iklan

Beragama Yang Tepat Di Era Covid-19

JIGANG.ID - Sudah hampir satu tahun (sejak awal Maret 2020 sampai Januari 2021) kita terkekang dengan keadaan akibat pandemi Covid-19 ini. Mau tidak mau seluruh aktivitas manusia terbatasi. Situasi serba tidak normal seperti layaknya tahun-tahun sebelumnya. 

Sumber Gambar Pixabay

Realitasnya, ketidaknormalan akibat pandemi ini ada yang menerima keadaan dengan penuh kehati-hatian dan ada pula yang masih banyak menolak dengan acuh tak acuh dalam setiap pergaulan. Bahkan kelompok yang menerima dan yang tidak memercayai adanya Covid-19 sama-sama menggunakan narasi agama sebagai pembenaran sikapnya tersebut.

Di titik inilah pentingnya kita sebagai muslim melihat secara utuh sebagai bahan refleksi diri tentang fenomena pandemi Covid-19 ini. Mungkin ini sebagai pelajaran bagi kami pribadi sekeluarga, mungkin juga bisa menjadi bahan renungan bagaimana menggunakan agama yang benar bagi kita semua.

Nabi Muhammad SAW adalah manusia pilihan, manusia terbaik sepanjang sejarah manusia di dunia, dan manusia yang dilindungi oleh Allah SWT. Tetapi kita sangat ingat bahwa beliau pernah lari bersembunyi ke Gua Tsur dari kejaran kaum Qurays. 

Lantas, apakah sikap beliau itu sebagai tanda takut pada musibah yang akan menimpanya? Tentu tidak demikian.

Nabi Nuh AS pernah membuat perahu besar demi keselamatan umatnya guna menghindari bencana banjir bandang yang dahsyat di suatu wilayah. Lantas, apakah beliau takut bencana yang melanda dirinya atau takut takdir Tuhan terhadap kehidupannya? Tentu tidak demikian.

Nabi Musa AS juga pernah berlari menyeberangi Laut Merah akibat dikejar musuh Raja Fir’aun. Lantas, apakah itu makna bahwa kekasih Tuhan itu takut musuh dan tidak menerima takdir Tuhan? Nabi Ilyas AS dalam kisahnya harus bersembunyi dari kejaran kaum kafir. 

Lantas, apakah itu bukti bahwa manusia kekasih Tuhan itu takut tertimpa musibah? Tentu sama sekali tidak demikian.

Nabi Ibrahim As pun pernah berlari dari kejaran Raja Namrud. Lantas, itu artinya beliau takut mati? Sayyidina Umar RA pernah menghindari wabah (tha'un) di suatu daerah ketika beliau dan rombongan hendak mendakwah agama.

Lantas, apakah itu sebagai simbol ketakutan beliau terhadap wabah dan tak percaya takdir Tuhan? Tentu juga tidak demikian.

Tidak hanya Nabi, para sahabat juga bertindak sama. Kita ingat, sahabat Amr bin Asy pernah berpidato di depan banyak orang; 

“Wahai manusia, jika wabah telah menjangkit di suatu negeri, pergilah kalian ke gunung-gunung (untuk menghindarinya)”

Ibnu Hajar Al Asqalany juga pernah berwasiat betapa bahayanya berada dalam kerumunan orang saat wabah menjangkit dan betapa bahayanya jika umat tidak menjaga dirinya. Lantas, artinya beliau berdua takut wabah dan tidak percaya adanya takdir Tuhan? Tentu tidak demikian.

Mereka bukan takut, tetapi mereka telah menggunakan agama dengan bener tur pener (benar dan tepat), agar umatnya bisa belajar dan tidak mati konyol. Sikap mereka (mestinya) dijadikan pelajaran penting bagi umat beragama di dunia sepanjang zaman.

Kita harus menyadari kisah pilu dua ulama yang ‘nekat’ menantang wabah yang akhirnya meninggal dunia. Ulama tersebut adalah Ibn Al Wardi dan Murtadha Al Zabidi. Secara kualitas agama, kurang hebat apa beliau berdua dalam beriman kepada Tuhan, tetapi masih diterpa ganasnya wabah? Karena wabah virus tidak mengenal apa agamamu, derajatmu, negaramu, golonganmu, sukumu, dan warna kulitmu.

Ketika sejak awal negara sudah menghimbau, ketika mayoritas ulama juga sudah berfatwa, tetapi mengapa sebagian umat masih nekat dan ‘ngeyel’? Ketika vaksinasi sudah dinyatakan suci dan halal dan mulai didistribusikan demi menyelamatkan umat manusia, tetapi mengapa sebagian umat masih nekat menolak divaksinasi?

Jangan sampai kita menggunakan agama justru menjadi ego pribadi nafsu sesaat yang pada akhirnya merusak diri sendiri, keluarga, dan orang di sekitarnya. Sebuah nalar dan sikap yang jauh dari nilai-nilai luhur agama itu sendiri.

Bukannya Hadist Shahih Nabi SAW sudah jelas, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu” (HR. Bukhari)

Sebuah tanda bahwa wabah di dunia memang nyata adanya dan sangat berbahaya bagi umat manusia. Sebagai umat beragama, tidak ada lagi alasan kecuali hanya “sami’naa wa atha’naa” Hanya bisa ikut apa yang sudah disabdakan dari sang Baginda Nabi Muhammad SAW dan para ulama penerusnya.

Dosen Studi Islam IIQ An Nur Yogyakarta. Pengurus Lembaga Dakwah PWNU DIY

Posting Komentar untuk "Beragama Yang Tepat Di Era Covid-19"