Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Iklan

Akhirnya Kita Tahu Siapa Rukhin Sebenarnya

JIGANG.ID - Bagi yang sering mendengarkan ngajinya Gus Baha, dipastikan akan sering mendengar nama Rukhin dan Musthofa yang sering disebut-sebut oleh Gus Baha. Seiring dengan melejitnya nama Gus Baha di media sosial terutama adalah Youtube, banyak orang berbondong-bondong mencari informasi tentang siapa sosok Rukhin dan Musthofa itu. 

Hingga Mba Najwa pada salah satu acara di platform Youtube menanyakan sendiri kepada Gus Baha siapa sih Rukhin itu, apakah memang benar ada orangnya, atau hanya sosok imajinatif yang dipakai untuk permisalan?

Gus Baha tentu menjawab "memang benar-benar ada yang namanya Rukhin dan Musthofa di tempat ngaji"

Kebetulan saya tergolong jamaah aktif yang mengikuti pengajian Gus Baha di Bedukan Wonokromo Bantul itu. Pada awalnya saya sempat mencari-cari nama sih Rukhin dan Musthofa yang sering disebut-sebut Gus Baha itu. 

Ternyata mereka berdua kalau ngaji tepat berada di depan Gus Baha. 

Gus Baha, kalau ngaji memang dekat dengan jamaah, bahkan dekat sekali. Antara Jamaah dan Gus Baha hanya dipisahkan meja kecil yang dijadikan oleh Gus Baha sebagai tempat meletakkan kitab, lampu dan jam tangan. Di sekitarkan di kelilingi oleh gawai-gawai canggih untuk merekam pengajian di hari itu. 

Saking banyaknya, biasa menjadi guyonan saya dan kawan-kawan "Sing ngaji hapene, wonge padahal turu" - Yang ngaji cuma hapenya, orangnya tidur. Hahaha.

Tertawa terbahak-bahak, itulah ciri khas dari Gus Baha. Ngaji itu harus seneng, bahagia dan seneng guyon. Tentu ini tidak bisa dijadikan sebagai ukuran orang lain dengan membalik "Kalau ngaji kok bikin susah dan sedih berarti kurang atau bahkan tidak baik" 

Bukan begitu maksudnya, ngaji guyon dan bahagia itu baik, yang ngaji serius bahkan tanpa guyon juga bisa jadi lebih baik. Semua tergantung pada niat dan tujuannya. 

Meskipun salah satu kelakar Gus Baha itu menjadikan Rukhin dan Musthofa sebagai objeknya, bukan berarti Gus Baha memang berniat mengejek Rukhin, melainkan bentuk kasih sayang dan perhatian kepadanya. 

Saya sering mendengarkan Gus Baha mengatakan yang intinya; yang berhak menertawakan Rukhin itu saya, karena saya tahu dia dan dia adalah murid saya. Jangan ditiru yang lain. Apalagi Rukhin dan Musthofa itu kiai kampung. 

Musthofa dan Rukhin adalah kiai kampung yang biasa ngajar ngaji, ceramah hingga mimpin tahlilan. Ya, kategori kiai di kampung memang sesederhana itu. Tapi tanggungannya berat.

Dari mana kita tahu tentang Rukhin? 

Beruntungnya, dia sudah menulis buku yang berjudul Rukhin Menemukan Guru Gus Baha' Perjalanan Menemukan Spirit Hikmah Kehidupan.

Buku setebal 80-an halaman itu menceritakan tentang kehidupan dan pengalaman pribadinya tentang hidup, mulai dari mondok di pesantren, menikah, perceraian, dipisahkan dari anaknya, hingga ekonomi yang tidak mapan-mapan. 

Rukhin adalah salah satu alumni dari pesantren Blok Agung Banyuwangi, di pesantren itu ia belajar dan tirakat. Macam-macam tirakat yang dilakukannya. Namun yang berhasil saya temukan di buku itu dan saya terpingkal-pingkal ketika membacanya adalah tirakat membaca waqiah 41 kali pada satu waktu selama 40 hari. 

Jadi begini ceritanya, Rukhin melihat kondisi kiainya waktu di pesantren yang sibuk mengisi pengajian di mana-mana, tapi belum punya mobil, dia mau membantu uang tidak bisa, karena dia sendiri juga kekurangan. Alhasil, ia membaca surat waqiah yang katanya ampuh menjadi "surat pesugihan" itu. 

Ia sendiri mengakui bahwa tirakat yang ia pilih itu sebenarnya tirakat yang agak berat. Estimasi membaca surat waqiah jika membacanya sudah lancar dan setengah hafal, kira-kira menghabiskan waktu 7-10 menit. Ya kira-kira 3-4 jam lah duduk membaca waqiah, karena syaratnya jangan beranjak sebelum selesai 41 kali dan itu istiqamah selama 40 hari.

Betapa mulianya Kiai Rukhin ini? Hihihi.

Setelah 40 hari selesai membaca waqiah sebanyak 41 kali, tak kunjung ada hasilnya, Kiainya belum juga punya mobil, ia ulangi tirakat itu hingga 3 kali (kalau saya tidak salah ingat). Sama saja tidak ada hasil yang signifikan. Ia pasrah dan berhenti melakukannya.

Tentang keluarganya yang berantakan, ia juga menulis pengalamannya di buku itu. Kata Kang Kholis salah satu sahabatnya pernah menceritakan "Kiaine Rukhin itu lucu, mondok bertahun-tahun di Banyuwangi setelah pulang tidak bawa kitab, malah bawa istri" sambil cekikikan. Kata Kang Kholis memang istrinya cantik, bahkan cantik sekali, apalagi kalau melihat kondisi Rukhin yang kata Gus Baha cilik dan kriting.

Intinya jarang orang yang percaya bahwa itu adalah istrinya Kang Rukhin. 

Di buku itu, Kang Rukhin benar-benar secara jujur mengeksplorasi kisah-kisahnya dalam menjalani kehidupan, meskipun ia sudah "agak" terkenal waktu itu, ini kata Kang Kholis biasa mengisi pengajian di kawasan Bantul dan Gunung Kidul.

Ia merasa bahwa hidupnya ada yang kurang, ada yang tidak sesuai dengan dirinya sendiri. Keluarganya berantakan, istri dan anaknya pergi, ia hidup sendiri di rumah. 

Di tengah-tengah kegalauannya itu, ia menemukan Gus Baha tepatnya pada tahun 2005. Mulai di tahun itulah ia mengaji dengan Gus Baha, awalnya ada beberapa gelintir orang saja yang ngaji secara khusus. Kini kita tahu, jamaah Gus Baha sudah ribuan yang mengikutinya, apalagi di platform Youtube dan media sosial lainnya. 

Setelah buku ini berhasil terbit, kini Rukhin tengah menyiapkan buku keduanya yang secara khusus menceritakan tentang sosok Gus Baha bagi dirinya.

Semoga kiai Rukhin diberikan kesehatan dan keselamatan menjadi sosok yang bisa memberikan kehangatan di tengah-tengah pengajian Gus Baha.

Ada satu kelakar dari Gus Baha ketika pirso bahwa Rukhin ingin menerbitkan buku "Gowo jeneng aslimu lho. Masrukhin. Wong kang diistirahatno. Istirahat rejekine yo mungkin" - Pakai nama asli yaitu Masrukhin artinya orang yang diistirahatkan rejekinya. Sambil tertawa. 

Penulis: Qowim Musthofa

Buku Rukhin Menemukan Guru Gus Baha bisa didapatkan di jigang.id di tautan berikut:

PESAN DI SINI

Posting Komentar untuk "Akhirnya Kita Tahu Siapa Rukhin Sebenarnya"